ALAMI DAN ILMIAH (PRODUK HERBAL/PERLEBAHAN TERBAIK)

ANDA BUTUH PRODUK PERLEBAHAN SEPERTI: ROYAL JELLY, MADU, POLLEN , PROPOLIS, HUB. SAYA DI 085103772110

Friday, January 16, 2009

Alergi Tak Terkait Sembelit

http://sehat-ituindah.blogspot.com
SETIDAKNYA ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang mengalami alergi, yaitu faktor genetik, kematangan saluran cerna, dan faktor pemicu alergi (allergen) itu sendiri. Kendati terdapat beberapa penanda umum alergi, gejala atau manifestasi klinis tersebut terkadang tidak spesifik alias kerap tak sama antara satu penderita dengan penderita lainnya, sehingga terkadang membingungkan.

Selain melakukan tes alergi, orangtua hendaknya jeli memantau kondisi kesehatan si kecil, adakah terjadi penyimpangan?. Misalnya manakala bayi mengalami gumoh, yakni mirip muntah tapi tidak banyak. Orangtua tak perlu langsung panik karena 70 persen bayi hingga usia 4 bulan mengalami gumoh sehari sekali. "Namun, jika gumoh terus berlangsung dan lebih sering, atau sudah ditangani tapi kok masih muntah saja ya patut dicurigai kemungkinan ada alergi," kata Dr Badriul Hegar SpA(K).

Kasus lainnya, lanjut Hegar, seorang anak yang mengalami diare berkepanjangan (lebih dari seminggu) padahal sudah diobati, maka perlu dicurigai bahwa ia terkena alergi. Sebaliknya, orangtua juga harus berhati-hati jika bayinya mengalami sembelit alias sulit buang air besar (BAB) selama tiga hari atau lebih. "Kasus sembelit anak cenderung meningkat pada anak alergi," katanya.

Berbeda dengan pernyataan Hegar, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Archives of Disease in Childhood menyebutkan, prevalensi alergi pada anak-anak dengan sembelit kronis tak seberapa jauh berbeda dengan populasi anak alergi umumnya, dan hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan susu sapi.

"Sejumlah studi menyebutkan sembelit kronis pada anak sebagai manifestasi klinis dari alergi susu sapi," kata Dr Annamaria Staiano dari Universitas Napoli , Italia.

Proktitis alergi atau reaksi alergi yang disebabkan peradangan pada dubur, yang bisa juga disertai rasa ingin BAB yang sering atau BAB berdarah, juga diduga ada hubungannya. Kendati hasil dari upaya pengurangan protein susu sapi tampak berbeda-beda pada setiap anak.

Studi terbaru berupaya memperoleh prevalensi sembelit kronis pada 5.113 anak usia 6 bulan sampai 6 tahun, yang dipilih secara acak. Sebanyak 69 anak dengan sembelit kronis dan 69 anak pada kelompok pembanding (kelompok kontrol) dites alergi dengan serum IgE pada kulit dan juga dilakukan uji kulit. Riwayat alergi keluarga terdapat pada 18 anak sembelit kronis (26 persen) dan 15 pada kelompok kontrol (21,7 persen).

Secara keseluruhan, tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah anak yang terdiagnosis alergi pada kedua kelompok tersebut. Yakni 12 anak (17,3 persen) pada kelompok sembelit kronis dan 13 anak (18,8 persen) pada kelompok kontrol.

11 dari 69 anak sembelit kronis juga tidak merespon terhadap pengobatan yang diberikan dan mereka diminta melakukan diet menghindari protein susu sapi selama 30 hari. "Tak satupun dari 11 anak ini menunjukan perbaikan signifikan dalam hal buang hajatnya, baik frekuensi maupun konsistensi BAB-nya," kata Staiano.

Berdasarkan temuan tersebut, ia dan timnya menyimpulkan bahwa tak ada perbedaan prevalensi alergi pada anak-anak dengan atau tanpa sembelit kronis. Dan pada populasi umum, sembelit kronis tidak ada hubungannya dengan alergi susu sapi.
Sumber: okezone.com